Friday, 22 January 2016

Mt. Munara


          Pendakian Gunung Munara 1119 mdpl ini dilakukan pada 21 Januari 2016, disaat gunung-gunung kawasan taman nasional tertutup untuk pendakian karena faktor cuaca. Jaraknya yang tidak terlalu jauh dari Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, dan Tangerang Selatan merupakan salah satu faktor menjadi ramainya pendaki ke Gunung Munara, bisa dikatakan Munara ini adalah pelarian obat kangen mendaki gunung disaat musim hujan.
TRANSPORTASI DAN RUTE MENUJU SITUS GUNUNG MUNARA.
Karena kami ber 2 dari  Tangerang Selatan jadi arah:
Stasiun Serpong -  Muncul Lurus Arah Bogor – Parung lalu belok kanan ke – Ciseeng – Rumpin – Basecamp situs Munung Munara.
Fix cost :
-         Bensin pp Rp20.000.
-         Parkir Rp5.000/motor.
-         Daftar di pos basecamp Rp5.000/orang.

Kondisi jalur pendakian tgl 21 Januari 2016 :
-         Naik jam 9.00 sampai puncak jam 10.00 Turun jam 14.30 sampai bawah 14.50.
-         Kondisi jalur berupa tanah gambut yang licin.
-         Terdapat tebing batu sebelum puncak yang cukup tinggi.
-         Setiap pos terdapat warung jarak anatar pos 5-10 menit.
-         Cuaca awal pendakian cerah pas puncak batu belah mulai mendung dan di puncak bintang mulai gerimis sebentar.

karena kami tiktok jadi jadi blum ngrasain ngcam di puncak gimana. jadi tidak bisa berbagi pengalaman ngcam di sana.
Diatas Puncak:
-                 Puncak Batuh belah puncak pertama dan paling pendak.
-                 Puncak azdan puncak ke dua dan terletak di paling ujung.
-                 Puncak bintang puncak paling tinggi di Gunung munara.
-                 Gua Patilasan Ir Soekarno.
-                 Taman Bunga.
-                 Gua satu lagi maaf lupa tapi letaknya di deket taman bunga.
Tips pendakian Gunung Munara :
-         Pakai sepatu hiking / boot karena track sangatlah kotor dan licin.
-         Udara cukup panas saat berada di jalur tidak seperti pendakian gunung umumnya.
-         Jika ingin mengecamp di puncak hanya cukup untuk 3 tenda tidak lebih. Sisanya bisa membuat tenda di goa dan bawah tebing.
-         Cukup membawa daypack untuk perjalanan satu hari.

gang MT.Munara

Pos Pembayaran/Tiket

Jembatan dekat penjual tiket

puncak Bintang

Gua Yang deket Taman Bunga

Ketukan hati Untuk Para Pendaki

Puncak Batu Terbelah

Gua Patilasan Soekarno

Puncak Azdan

Puncak Bintang


Puncak Adzan

Tuesday, 19 January 2016

ASAL MULAH PENCINTA ALAM INDONESIA

ASAL MULAH PENCINTA ALAM INDONESIA
Tahun 2014 ini, genap sudah organisasi pencinta alam di Indonesia berumur 54 thun. Sejak kehadirannya pada dekade 60-an, organisasi pencinta alam di Indonesia makin meningkat dengan pesat. Baik itu perorangan maupun kelompok. Peminatnya terus bertambah , tidak hanya dari kota-kota besar tapi sudah tersebar sampai ke pelosok Nusantara. Menurut catatan PIPA ( Pusat Informasi Pecinta Alam, suatu wadah yang pernah didirikan oleh LIPI – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ada sekitar 1500 perhimpunan pencinta alam di Indonesia. Itu pada tahun 1995, entah sekarang, yang jelas statistik itu pasti membengkak lagi.
Namun seiring dengan bertambahnya bentuk kegaitan prestasi dan prestise meningkat, ternyata banyak sekali perhimpunan pencinta alam yang ada sekaran tidak mengetahui sejarah asal usul pencinta alam itu sendiri. Kalau seseorang tidak mengetahui apa yang di cintai, apakah mungkin akan tumbuh rasa cinta pada sesuatu tersebut ? Hal ini mengakibatkan banyaknya perhimpunan pencinta alam yang hanya sekedar mengusung simbol-simbol serta kebanggaan dengan memasang berbagai atribut atau aksesoris agar nampak seperti pencinta alam, tetapi perilakunya tidak mencerminkan hal itu.
Padahal di awal kehadirannya, organisasi yang “ lahir “ di atas kemelut politik ini telah memiliki visi dan misi yang jelas, yang paling sederhana adalah pembentukan character building. Di salah satu artikelnya yang berjudul Menaklukkan Gunung Slamet yang terangkum dalam buku Zaman Peralihan Soe Hok Gie ( Alm. ) menulis seperti ini... Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal akan obyeknya, dan mencintai tanah air Indonesia dapat di tumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itu kami naik gunung. Melihat alam dan rakyat dari dekat secara wajar di samping itu untuk menimbulkan daya tahan fisik yang tinggi. “ Libur ini kami ingin mendaki gunung yang berat”. Kami terangkan pada mereka…
Berdasarkan tulisan di atas, almarhum memahami benar bahwa orang yang bergerak dalam kegiatan autdoor seperti ini umumnya memiliki kemampuan fisik, sikap serta intelegensia yang baik. Dan itu jelas merupakan modal yang bagus untuk pembangunan. Namun yang terjadi sekarang justru kebalikannya. Banyak yang mengklaim dirinya pencinta alam tetapi dalam kegiatannya sebenarnya justru malah merusak alam. Apakah itu bukan salah kaprah namanya…..?
Asal – Usul Pencinta Alam. 
Kelahiran pencinta alam di Indonesia memang tidak diketahui secara pasti tanggal dan bulannya. Namun yang jelas, cikal bakal kegiatan ini mulai hadir sekitar tahun 60-an. Konon istilahpencinta alam itu sendiri pertama kali dikenalkan oleh ( Alm. ) Soe Hok Gie, salah satu pendiri Mapala UI. Namun penulis sendiri yakin, bahwa almarhum tidak akan pernah menyangka bila istilah yang diperkenalkannya itu kelak akan masuk ke dalam kosa kata Bahasa Indonesia, karena awal kehadirannya pun “ Cuma “ sebuah rangkaian kecil dari sejarah politik Indonesia pada saat itu.
Keteika Presiden Soekarno semakin terpengaruh oleh Partai Komunis Indonesia, atmosfir politik di Indonesia otomatis terpecah menjadi dua. Satu pihak yang berada di belakang Soekarno menyebut dirinya sebagai kelompok Revolusioner, sementara pihak yang tidak sejalan dengan garis kebijaksanaan Seokarno dianggap kelompok kontra-revolusioner atau kelompok reaksioner. Ternyata, kondisi seperti itu merambah pula dalam dunia kampus. Mahasiswa ikut-ikutan terpecah menjadi dua, yaitu kelompok mahasiswa revolusioner dan kontra-revolusioner.
Di antara kelompok mahasiswa yang saling bersebrangan itu, ada juga kelompok mahasiswa yang bersikap netral meskipun lokal sifatnya. Di Jakarta, ada kelompok mahasiswa yang menamakan dirinya Ikatan Mahasiswa Djakarta ( IMADA ) serta Gerakan Mahasiswa Djakarta ( GMD ). Di Bandung sendiri organisasi mahasiswa yang bersikap netral adalah Perhimpunan Mahasiswa Bandung ( PMB ) dan Corps Studiosorum Bandungense ( CBS ).
Pertentangan antara kedua kelompok mahasiswa itu kian hari kian menguat frekuensinya. Masing-masing berusaha untuk saling menjegal satu sama lain. Dalam ruang lingkup yang lebih kecil, kemelut politik yang sebenarnya akar permasalahannya justru berada di luar kampus itu mulai ‘ menyerang’ ke dalam fakultas, tak terkecuali Fakultas Sastra Universitas Indonesia ( FUI ) harus terkena pula imbasnya. Sampai-sampai dalam pemilihan ketua senat pun, para kandidat yang muncul adalah mahasiswa-mahasiswa yang membawa bendera-bendera organisasi tertentu. Namun ternyata, tekanan dari kelompok revolusioner kian lama kian menguat, dan kelompok yang netral justru semakin terjepit diantara kekuatan –kekuatan tersebut.
Dalam kondisi terjepit seperti itu. Kelompok netral yang berada di FSUI mencoba untuk “ menggeliat” dengan melakukan serangkaian kegiatan-kegiatan itu. Baik di lingkungan kampus maupun di luar. Kelompok yang semakin hari semakin banyak peminatnya itu dimulai “ melawan” dengan cara sendiri. Seperti menyelenggarakan diskusi, memutar film dan kegiatan lainnya. Sementara untuk kegiatan keluarnya, mereka selalu memiliki agenda untuk menyelenggarakan perjalanan bersama ke gunung-gunung maupun ke dusun-dusun sepi.
Rasa senasib sepenanggungan dalam perjalanan, terkucil dari “keramaian “ politik serta rasa terpencil itulah yang membuat mereka bersama-sama untuk “ berkeluh kesah “ pada Sang Pencipta. Mereka adalah kelompok mahasiswa yang tidak rela almamaternya ( FSUI ) dijadikan ajang pertarungan politik guna kepentingan luar. Kemudian kelompok ini menamakan diri sebagai pencinta almamater. Selain dimotori (Alm.) Soe Hok Gie, juga ada Herman O. Lantang, Asminur Sofyan Udhin, Edi Wuryantoro serta Maulana.
Dalam skala kecil, hikmah yang bisa diambil oleh mereka adalah mendapatkan kawan yang senasib sepenanggungan sementara lingkup yang luasnya, yaitu bahwa ternyata untuk mencintai dan membangun negara tercinta tidak selalu harus dengan cara berpolitik. Masih ada cara lain selain saling “ sikut-sikutan” guna kepentingan penguasa. Mendaki gunung misalnya.
Atas dasar pengalaman serta penderitaan itulah yang kelak kemudian menjadi cikal-bakal organisasi yang untuk pertama kalinya menggunakan istilah pencinta alam, yaitu Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Prajnaparamita FSUI. Prajnaparamita sendiri adalah lambing jati diri dari FSUI yang berarti Dewi Kesenian dan Ilmu Pengetahuan dalam mitologi India, karena memang pada saat itu Mapala hanya milik FSUI. Baru pada tahun 1971, ketika Mapala resmi menjadi bagian dari Unit Kegiatan Mahasiswa di UI, maka para pendirinya dengan tulus melepaskan hak atas nama Prajnaparamita itu.
Pada perkembangan selamjutnya, ketika organisasi seperti itu mulai menjamur, para “ elite” pencinta alam di tanah air mulai merasakan bahwa sudah tiba waktunya dibentuk suatu Kode Etik bagi pencinta alam. Setelah beberapa tahun dirumuskan, baru pada Gladian ke-IV lah kode etik bagi pencinta alam dikumandangkan di Ujungpandang ( Makassar).
Antara Lalu dan Kini : Hakekat Yang Telah Bergeser.
Berdasarkan kisah di atas, jelaslah kiranya bahwa fenomena kelahiran pencinta alam di Indonesia pada mulanya hanya didasari oleh sikap “ perlawanan” dan hasil “kontemplasi” dari sekelompok mahasiswa FSUI terhadap establishment ( kemampuan ) atau bisa jadi juga sebagai bentuk escapisme ( pelarian ) dikarenakan rasa tidak berdaya, aliansi dan anomi.
Dalam lingkup kegiatannya, idealisme memang diwujudkan di sini. Sampai sekarang pun, idealisme itu masih tetap terpelihara dengan tidak berdirinya organisasi pencinta alam – baik itu berada di SMU, Universitas maupun yang berdiri sendiri – pada satu kekuatan atau warna politik tertentu. Karena sampai saat ini, belum pernah kita dengar ada organisasi pencinta alam yang demo kepada pemerintah menuntut “ jatah” kursi di DPR. Kode etik yang diikrarkan pada tahun Namun setelah lima puluh tahun berlalu, idealisme dan makna serta hakekat pecinta alam itu sendiri semakin luntur. Kode etik yang diikrarkan pada tahun 1974 kini hanya menjadi slogam belaka atau sekedar lips service saja, karena baru akan dikumandangkan pada saat kode etik itu memang perlu dibacakan. Misanya, tiap diselenggarakannya diksar. Tapi ironisnya, hal itu tidak masuk pada perilaku kehidupan sehari-hari.
Kalau sudah begini, maka urusan pelestarian alam yang jelas-jelas tertuang pada kode etik tersebut hanya menjadi omong kosong belaka. “ Penyakit “ seperti itu kian waktu semakin merasuk di kalangan pencinta alam. Akibatnya adalah semakin banyaknya para pencinta alam yang tidak menyadari keberadaan dirinya. Padahal seharusnya mereka memiliki point yang lebih daripada orang-orang yang tidak pernah / belum memasuki organisasi pecinta alam, khususnya soal kesadaran dan kepeduliaan akan lingkungan hidup. Bukankah inti dari kode etik itu adalah soal kesadaran akan alam dan upaya manusia untuk mencintai alam.? Yang berarti pula mencoba untuk mencintai Sang Pencipta lewat kegiatannya tersebut.
Sebagai bagian dari suatu masyarakat yang lebih besar, sudah saatnya kalangan pencinta alam tidak menutup diri dari perkembangan yang terjadi di luar dirinya. Dari tahun ke tahun, organisasi semacam ini dituntut untuk terus berpartisipasi aktif guna mengisi pembangunan di tanah air. Karena memasuki abad 21ini, pilihan yang berada di depan hidung para pencinta alam semakin banyak dan kompleks sementara makna serta hakekat dari pencinta alam itu sendiri sebagai pelestari alam semakin kabur jauh entah kemana.
Sepertinya, sudah tiba saatnya organisasi para pencinta alam “ bersatu “ kembali guna mengembangkan ide serta bentuk kegiatan yang bermanfaat dalam bentuk yang konkrit. Hal ini bukan saja buat dirinya tetapi juga buat masyarakat, tempat di mana golongan ini hidup dan berkembang. Terutama sekali buat “ Ibunda “ kita semua, yakni alam terbuka. Tempat dimana kita bermain dan berkegiatan . Semoga…….
( Dimuat di Majallah Wanadri Edisi 9 Juli – Agustus 2001 )


MATERI-MATERI DALAM PECINTA ALAM

 
MATERI- MATERI PECINTA ALAM
THAB ( Tekhnik Hidup di Alam Bebas )
A. Packing
B. Bivoack
C. Pengenalan medan
D. Survival
PENGETAHUAN FLORA DAN FAUNA
A. FLORA
B. FAUNA
PPGD (Pertolongan Pertama Gawat Darurat)

A. Gangguan umum
B. Mountain Sickness
IMMP (Ilmu Membaca Medan dan Peta)
A. Kompas
B. Cara menggunakan kompaS
C. Pembidikan
D. Cara berjalan menurut arah kompas
E. Kopeta petako
F. Resection dan intersection
MOUNTAINERING
A. Kegiatan mendaki gunung
B. Tali temali
SARS (search and resque)
A. SAR (search and resque)
B. Macam-macam SARS
C. Tahap-tahap SARS






THAB (Teknik Hidup di Alam Bebas)
Apabila kita akan mengadakan suatu kegiatan yang berkaitan dengan alam bebas, maka kita harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan terencana, karena alam sulit untuk kita prediksi, bahkan terkadang sesuatu yang tidak kita harapkan bisa terjadi,
Misalnya :
a. Tersesat
b. Kehabisan air dan bahan makanan, dll.
Materi THAB meliputi poin-poin penting, diantaranya: Packing, Bivoack, Survival, PP (Pertolongan Pertama), Pengenalan Medan.
A. PACKING
Packing adalah penataan barang yang kita bawa atau menata barang ke dalam tas carier agar mudah mengeluarkannya, mudah dibawa dan terlihat rapi, dengan berat ideal
1/3 dari berat badan kita.hal ini tentunya bertujuan agar kita dapat dengan mudah dan nyaman dalam melakukan aktifitas dan perjalanan.

Yang perlu diperhatikan dalam packing, antara lain : Kenyamanan, Kerapian dan Keindahan.

- Kenyamanan, maksudnya : nyaman untuk dibawa, tidak sakit, tidak goyang urut-urutannya, penempatannya teratur agar mudah ketika mengambil barang yang dibutuhkan.
- Kerapian dan keindahan, maksudnya : tas carier terlihat rapi dan indah dipandang mata.
Prinsip-prinsip packing:
- usahakan pakaian dibungkus dengan plastik
- barang yang paling berat diletakkan di atas, yang ringan di bawah
- barang yang paling dibutuhkan segera(obat, ponco, alat sholat) diletakkan di bagian atas
- barang yang berongga diisi, misal: rantang dll
B. BIVOAC
Bivoac adalah tempat berlindung atau shelter untuk melindungi tubuh dari cuaca maupun binatang, yang perlu diperhatikan dalam mencari tempat untuk bivoac, antara lain:
- Di atas tanah yang padat
- Jangan terlalu dekat dengan pohon
- Hindari daerah lintasan binatang
- Hindari terpaan angin secara langsung
- Hindari daerah lintasan air atau sungai kering
- Perhatikan keadaan tanah sekitar, misal: tanah longsor
Tujuan bivoac:
- Melindungi diri dari faktor alam dengan tidak merusak alam atau lingkungan
- Merupakan tempat survivor
- Tempoat koordinasi
- Sebagai tanda komunikasi
Sebab-sebab bivoac:
- Tersesat
- Perjalanan terhenti, misal: karena hujan, badai dll
- Kemalaman atau operasi SAR

Bahan yang dipakai dalam membuat bivoac
- bahan dari alam : pohon tumbang
- bahan kering : ranting, goa atau lubang
- bahan sintetik : ponco atau mantel

jenis-jenis bivoac:
- bivoac darurat berupa daun dan ranting
- bivoac sementara berupa ponco atau mantel
- bivoac semi permanen berupa goa atau gubuk sementara
apabila memilih gua, kita harus memastikan tempat ini bukan persembunyioan satwa. Gua yang akan ditinggali juga tak boleh mengandung racun. Cara klasik untuk mengetahuiada tidaknya racun adalah dengan memakai obor. Kalau obor tetap menyala dalam gua tadi artinya tak ada racun atau gas berbahaya di sekitarnya.

Contoh gambar bivoac:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6HV5cFZE-YpbF_k7rKsggoAe4Y2F38_b4JemgdlK3O560FQBchmh0l52qE1mwCi5JTP-KPggau6a17ctcR9pV5flI6Vv9lNPYFNBtpmh3u7u5IeJtHM_ma6CRLNCWIRlEicgMbUVFzn7n/s400/180779_1806357405806_1446055222_31996739_3969796_n.jpg




Pemilihan tempat:
- kemiringan, pengaruh angin dan aliran air
- teduh dan terlindungi dari air
- keamanan dari faktor alam
- lapangan
- pemandangan indah
- jenis tanah labil atau stabil
- dekat fasilitas yang dibutuhkan ( misal: sumber makanan dan air)

C. PENGENALAN MEDAN
Informasi untuk mengenal medan dapat diperoleh dari petugas perhutanan dan penduduk setempat. Proses pengenalan medan meliputi:
• Mengopserfasi angin, tanah, hutan dan suhu
• Mengevaluasi labil atau stabil
• Adaptasi atau penyesuaian dengan alam

Macam-macam medan:
- hutan primer
- hutan sekunder
- hutan perkebunan

Cara menentukan jalan:
- mengenal medan
- istirahat sejenak, konsentrasi, menjernihkan fikiran
- melihat tanda
- mengenali arah jalan bila ada persimpangan
- mengikuti aliran sungai
- mengikuti punggung gunung
- mengikuti garis pantai

D. SURVIVAL
Survival memilik arti berhasil atau mampu mempertahankan diri dari suatu keadaan darurat atau buruk dengan memanfaatkan segala potensi yang ada. Sedangkan survivor adalah manusia yang sedang mempertahankan diri dari keadaan tersebut.

Faktor yang menentukan keberhasilan survival, antara lain:
- Perjuangan mental
- Kemauan
- Pengetahuan teknik survivor

Contoh gambar peralatan survival:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIyn83MbqrvB1eCqjkWvSGXJKp3-75sjV00dJVJriFpcJE5AEDnIpbylkhrtK95G7RoR6qdR4yoGlcOLIYPYjNDI9doXZBQ9l3JAsb9_rpy_XCztaKaQMi-4sKAPqEn2SIt6kDCgLZEMb3/s320/Survival-Kit-Items-Latest2.jpg


Sering kali dalam keadaan yang kritis, hal-hal yang sifatnya emosional akan muncul. Misal: shock, takut, bingung, jenuh dsb. Kondisi tersebut akan semakin merperparah kondisi survivor seperti kelelahan, lapar, haus, dll. Jadi kemauan bertahan hidup dan semangat untuk keluar dari kondisi tersebut didukung dengan pengetahuan tentang tehnik survivor. Rintangan/hambatan seringkali diatasi dengan kata “SURVIVAL” Dan “STOP”.

S = Sadarlah situasimu
U = Upaya untuk mengatasi rasa tersesat
R = Rasa takut dan panik harus kau atasi dan buang jauh
V = vakum, kekosongan diisi dengan hal yang positif
I = Ingat kau ada dimana
V = Vivo, hidup dan hargailah dia
A = Adat istiadat setempat patut ditiru
L = Latih dan belajarlah selalu

S = Setting, duduk dan istirahat
T = Thinking
O = Observasi daerah sekitar
P = Planning ( merencanakan langkah berikut )